BERANI TAMPIL BEDA ???
Umumnya, sebagian besar orang akan memilih untuk bertindak, bersikap dan berperilaku seperti kebanyakan orang di sekitarnya; atau di mana mereka hidup dan tinggal. Dengan kata lain, seseorang mempunyai kecenderungan untuk berusaha ‘sama” atau “tidak berbeda” dengan kebanyakan orang lainnya. Mereka semua berpatokan apada aturan, norma dan nilai-nilai yang berlaku umum di masyarakatnya. Padahal – norma, aturan dan nilai – tidak pernah secara eksplisit menegaskan ‘variasi-variasi’ (alternatif-alternatif) sikap, tindakan dan perilaku yang tersedia di dalamnya; Norma, aturan dan nilai- hanya menegaskan prinsip-prinsip yang seharusnya dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
Oleh karena itu pula, jarang orang berani “berbeda” dengan yang kebanyakan orang lakukan. “Tampil beda” memang dibutuhkan suatu “keberanian”, meski berbeda dengan kebanyakan orang tidaklah selalu berarti ‘negatif’; ‘tampil beda” beresiko akan dibenci, dikucilkan atau bahkan dipenjara jika tidak berhasil membuahkan terobosan-terobosan baru.
Di era globalisasi ini, “tampil beda” justru diperlukan karena sebuah ‘inovasi’ atau ‘invention’ tidak akan terjadi jika tidak ada yang berani ‘tampil beda’ dalam masyarakat yang bersangkutan.
Begitu halnya dengan “Sensasi”. Dalam kerangka pikir ini, ‘sensasi’ bisa dilihat sebagai bagian dari “tampil beda”. Tidak hanya masyarakat (secara kolektif), tetapi perseorangan pun, sering diperlukan ‘tampil beda’ untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar